Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM)
Disusun
Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Terstuktur Mata Kuliah Strategi Pembelajaran
Dosen Pengampu :
H.
Wawan Khoerul Anwar, S.Ag., M.Pd.I
Disusun Oleh :
Nita Khairu Ummah
13.03.2903
NuriaMustika
13.03.2908
FAKULTAS TARBIYAH
PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM
INSTITUT
AGAMA ISLAM DARUSSALAM CIAMIS
2014
KATA PENGANTAR
Segala puji kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas makalah ini.
Shalawat beserta salam
semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluargannya, sahabat-sahabtnya beserta umatnya.
Terimakasih penulis sampaikan dengan
penuh penghormatan kepada :
1.
H. Wawan Khoerul Anwar, M.Pd.
selaku dosen mata kuliah stategi pembelajaran
yang
telah memberikan arahan demi
terselesaikannya makalah ini.
2.
Kawan-kawan yang
telah memberikan semangat dan motivasi hingga makalah
ini selesai.
Semoga amal kebaikan semua pihak yang telah membantu senantiasa mendapat limpahan rahmat
dan karunia
Allah SWT.
Bagi mereka semuannya, jazakumullah khoironkatsiron, semoga Allah membalas dengan balasan yang lebih baik, amiin.
Namun
disadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan maklah
ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena
itu segala bentuk saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan.
Akhir
kata penulis berharap semoga makalah yang sederhana ini dapat
memberikan manfaat, amiin.
Ciamis,
19 oktober 2014
Penulis
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pembelajaran berbasis
masalah dapat diartikan sebagai rangkaian
aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang
dihadapi secara ilmiah. Model ini bercirikan penggunaan masalah kehidupan nyata
sebagai sesuatu dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan menyelesaikan masalah, serta
mendapatkan pengetahuan konsep-konsep penting. Pendekatan ini mengutamakan
proses belajar dimana tugas guru harus memfokuskan diri untuk membantu siswa
mencapai keterampilan mengarahkan diri.
Dalam penerapan Strategi Pembelajaran
Berbasis Masalah (SPBM), guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menetapkan topik masalah, walaupun sebenarnya guru sudah mempersiapkan apa yang
hrus dibahas. Proses pembelajaran diarahkan agar siswa mampu menyelesaikan
masalah secara sistematis dan logis.
Dilihat dari aspek psikologi belajar SPBM bersandarkan kepada psikologi
kognitif yang berangkat dari asumsi bahwa belajar adalah proses perubahan
tingkah laku berkat adanya pengalaman. Dilihat dari aspek filosofis tentang
fungsi sekolah sebagai arena atau wadah untuk mempersiapkan anak didik
agar dapat hidup di masyarakat, maka SPBM merupakan strategi yang
memungkinkan dan sangat penting untuk dikembangkan. Hal ini disebabkan pada
kenyataannya setiap manusia akan selalu dihadapkan kepada masalah, dari mulai
masalah sederhana sampai kepada masalah yang kompleks. Dilihat dari konteks
perbaikan kualitas pendidikan, maka SPBM merupakan salah satu strategi
pembelajaran yang dapat digunakan untuk memperbaiki sistem pembelajaran.
1.2. Rumusan Masalah
Untuk
memudahkan proses penjabaran dan penjelasan, makalah ini memiliki beberapa
rumusan masalah, yaitu :
1.
Apakah pengertian dari SPBM ?
2.
Bagaimana
konsep dasar dan karakteristik SPBM ?
3.
Bagaimana
tahapan SPBM?
1.3. Tujuan Pembahasan
1.
Untuk mengetahui
pengertian dari SPBM
2.
Untuk memahami konsep dasar dan karakteristik SPBM
3.
Untuk mengetahui
tahapan SPBM?
1.4. Metode
1. Membaca buku
2.
Searching
internet
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian SPBM
Pengajaran berdasarkan masalah ini
telah dikenal sejak zaman John Dewey. Menurut Dewey belajar berdasarkan masalah adalah interaksi
antara stimulus dan respon, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan
lingkungan. Lingkungan memberikan masukan kepada siswa berupa bantuan dan
masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara
efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis,
serta dicari pemecahannya dengan baik.
Pembelajaran
Berbasis Masalah yang berasal dari bahasa Inggris Problem-based Learning
adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dimulai dengan menyelesaikan suatu
masalah, tetapi untuk menyelesaikan masalah itu siswa memerlukan pengetahuan
baru untuk dapat menyelesaikannya.
Pendekatan pembelajaran berbasis masalah (problem-based
learning / PBL) adalah konsep pembelajaran yang membantu guru menciptakan
lingkungan pembelajaran yang dimulai dengan masalah yang penting dan relevan
(bersangkut-paut) bagi siswa, dan memungkinkan siswa memperoleh pengalaman
belajar yang lebih realistik (nyata).
Pembelajaran
Berbasis Masalah melibatkan siswa dalam proses pembelajaran yang aktif,
kolaboratif, berpusat kepada siswa, yang mengembangkan kemampuan pemecahan
masalah dan kemampuan belajar mandiri yang diperlukan untuk menghadapi
tantangan dalam kehidupan dan karier, dalam lingkungan yang bertambah kompleks
sekarang ini. Pembelajaran Berbasis Masalah dapat pula dimulai dengan melakukan kerja
kelompok antar siswa. Siswa menyelidiki sendiri, menemukan permasalahan,
kemudian menyelesaikan masalahnya di bawah petunjuk fasilitator (guru).
Pembelajaran Berbasis Masalah menyarankan kepada
siswa untuk mencari atau menentukan sumber-sumber pengetahuan yang relevan.
Pembelajaran berbasis masalah memberikan tantangan kepada siswa untuk belajar
sendiri. Dalam hal ini, siswa lebih diajak untuk membentuk suatu pengetahuan
dengan sedikit bimbingan atau arahan guru sementara pada pembelajaran
tradisional, siswa lebih diperlakukan sebagai penerima pengetahuan yang
diberikan secara terstruktur oleh seorang guru.
Pembelajaran berbasis masalah (Problem-based
learning), selanjutnya disingkat PBL, merupakan salah satu model
pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa.
PBL adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan suatu
masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari
pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki
ketrampilan untuk memecahkan masalah.
Oleh karena itu, pengajaran
berdasarkan masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses
berfikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses
informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri
tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan
pengetahuan dasar maupun kompleks.
2.2. Konsep Dasar dan Karakteristik SPBM
SPBM dapat diartikan sebagai
rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian
masalah yang dihadapi secara ilmiah. Terdapat 3 ciri utama dari SPBM, yaitu :
· SPBM merupakan rangkaian aktivitas
pembelajaran, artinya dalam implementasi SPBM ada sejumlah kegiatan yang harus
dilakukan siswa. SPBM tidak mengharapkan siswa hanya sekedar mendengarkan,
mencatat, kemudian menghapalkan materi pelajaran, akan tetapi melalui SPBM
siswa aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya
menyimpulkan.
· Aktivitas pembelajaran diarahkan
untuk menyelesaikan masalah. SPBM menempatkan masalah sebagai kata kunci dari
proses pembelajaran. Artinya, tanpa masalah maka tidak mungkin ada proses
pembelajaran.
· Pemecahan masalah dilakukan dengan
menggunakan pendekatan berfikir secara ilmiah. Berpikir dengan menggunakan
metode ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir ini
dilakukan secara sistematis dan empiris. Sistematis artinya berpikir ilmiah
dilakukan melalui tahap-tahap tertentu; sedangkan empiris artinya proses
penyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta yang jelas.
Untuk
mengimplementasikan SPBM, guru perlu memilih bahan pelajaran yang memiliki
permasalahan yang dapat dipecahkan. Permasalahan tersebut bisa di ambil dari
buku teks atau dari sumber-sumber lain misalnya dari peristiwa yang terjadi
dilingkungan sekitar, dari peristiwa dalam keluarga atau dari peristiwa
kemasyarakatan.
Strategi pembelajaran dengan
pemecahan masalah dapat diterapkan :
·
Manakala guru menginginkan agar siswa tidak hanya sekedar
dapat mengingat materi pelajaran, akan tetapi menguasai dan memahaminya secara
penuh.
·
Apabila guru bermaksud untuk mengembangkan keterampilan
berpikir rasional siswa, yaitu keterampilan menganalisis situasi, menerapkan
pengetahuan yang mereka miliki dalam situasi baru, mengenal adanya perbedaan
antara fakta dan pendapat, serta mengembangkan kemampuan dalam membuat judgment
secara objektif.
·
Manakala guru menginginkan kemampuan siswa untuk memecahkan
masalah serta membuat tantangan intelektual siswa.
·
Jika guru ingin mendorong siswa untuk lebih bertanggung
jawab dalam belajar.
·
Jika guru ingin agar siswa memahami hubungan antara apa yang
dipelajari dengan kenyataan dalam kehidupannya (hubungan antara teori dengan
kenyataan).
2.3. Tahapan SPBM
Banyak ahli yang menjelaskan untuk
penerapan SPBM. John Dewey seorang ahli pendidikan berkembangsaan Amerika
menjelaskan 6 langkah SPBM yang kemudian dia namakan metode pemecahan masalah (problem
solving), yaitu :
- Merumuskan masalah, yaitu langkah siswa menentukan masalah yang akan dipecahkan.
- Menganalisis masalah, yaitu langkah siswa meninjau masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang.
- Merumuskan hipotesis, yaitu langkah siswa merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
- Mengumpulkan data, yaitu langkah siswa mencari dan menggambarkan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah.
- Pengujian hipotesis, yaitu langkah siswa mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan.
- Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah, yaitu langkah siswa menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.
David Johnson & Johnson
mengemukakan ada 5 langkah SPBM melalui kegiatan kelompok, yaitu :
- Mendefinisikan masalah, yaitu merumuskan masalah dari peristiwa tertentu yang mengandung isu konflik, hingga siswa menjadi jelas masalah apa yang akan di kaji. Dalam kegiatan ini guru bisa meminta pendapat dan penjelasan siswa tentang isu-isu hangat yang menarik untuk dipecahkan.
- Mendiagnonis masalah, yaitu menentukan sebab-sebab terjadinya masalah, serta menganalisis berbagai faktor baik faktor yang bisa menghambat maupun faktor yang dapat mendukung dalam penyelesaian masalah. Kegiatan ini bisa dilakukan dalam diskusi kelompok kecil, hingga pada akhirnya siswa dapat mengurutkan tindakan-tindakan prioritas yang dapat dilakukan sesuai dengan jenis penghambat yang diperkirakan.
- Merumuskan alternatif strategi, yaitu menguji setiap tindakan yang telah dirumuskan melalui diskusi kelas. Pada tahap ini setiap siswa didorong untuk berpikir mengemukakan pendapat dan argumentasi tentang kemungkinan setiap tindakan yang dapat dilakukan.
- Menentukan dan menerapkan strategi pilihan, yaitu pengambilan keputusan tentang strategi mana yang dapat dilakukan.
- Melakukan evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil. Evaluasi proses adalah evaluasi terhadap seluruh kegiatan pelaksanaan kegiatan; sedangkan evaluasi hasil adalah evaluasi terhadap akibat dari penerapan strategi yang diterapkan.
Sesuai dengan tujuan SPBM adalah
untuk menumbuhkan sikap ilmiah, dari beberapa bentuk SPBM yang dikemukakan para
ahli, maka secara umum SPBM bisa dilakukan dengan langkah-langkah :
- Menyadari Masalah
Implementasi SPBM harus dimulai
dengan kesadaran adanya masalah yang harus dipecahkan. Pada tahapan ini guru
membimbing siswa pada kesadaran adanya kesenjangan atau gap yang
dirasakan oleh manusia atau lingkungan sosial. Kemampuan yang harus dicapai
oleh siswa pada tahapan ini adalah siswa dapat menentukan atau menangkap
kesenjangan yang terjadi dari berbagai fenomena yang ada. Mungkin pada tahap
ini siswa dapat menemukan kesenjangan lebih dari satu, akan tetapi guru dapat
mendorong siswa agar menentukan satu atau dua kesenjangan yang pantas untuk
dikaji baik melalui kelompok besar atau kelompok kecil atau bahkan individu.
- Merumuskan Masalah
Bahan pelajaran dalam bentuk topic
yang dapat dicari dari kesenjangan, selanjutnya difokuskan pada masalah apa
yang pantas untuk dikaji. Rumusan masalah sangat penting, sebab selanjutnya
akan berhubungan dengan kejelasan dari kesamaan persepsi tentang masalah dan berkaitan dengan data-data
apa yang harus dikumpulkan untuk menyelesaikannya. Kemampuan yang diharapkan
dari siswa dalam langkah ini adalah siswa dapat menentukan prioritas masalah.
Siswa dapat memanfaatkan pengetahuannya untuk mengkaji, memerinci, dan
menganalisis masalah sehingga pada akhirnya muncul rumusan masalah yang jelas,
spesifik, dan dapat dipecahkan.
- Merumuskan Hipotesis
Sebagai proses berpikir ilmiah yang
merupakan perpaduan dari berpikir deduktif dan induktif, maka merumuskan
hipotesis merupakan langkah penting yang tidak boleh ditinggalkan. Kemampuan
yang diharapkan dari siswa dalam tahapan ini adalah siswa dapat menentukan
sebab akibat dari masalah yang ingin diselesaikan. Melalui analisis sebab
akibat inilah pada akhirnya siswa diharapkan dapat menentukan berbagai
kemungkinan penyelesaian masalah. Dengan demikian, upaya yang dapat dilakukan
selanjutnya adalah mengumpulkan data yang sesuai dengan hipotesis yang
diajukan.
- Mengumpulkan Data
Sebagai proses berpikir empiris,
keberadaan data dalam proses berpikir ilmiah merupakan hal yang sangat penting.
Sebab, menentukan cara penyelesaian masalah sesuai dengan hipotesis yang
diajukan harus sesuai dengan data yang ada. Proses berpikir ilmiah bukan proses
berimajinasi akan tetapi proses yang didasarkan pada pengalaman. Oleh karena
itu, dalam tahapan ini siswa didorong untuk mengumpulkan data yang relevan.
Kemampuan yang diharapkan pada tahap ini adalah kecakapan siswa untuk
mengumpulkan dan memilah data,kemudian memetakan dan mengkajikannya dalam
berbagai tampilan sehingga mudah dipahami.
- Menguji Hipotesis
Berdasarkan data yang dikumpulkan,
akhirnya siswa menentukan hipotesis mana yang diterima dan mana yang ditolak.
Kemampuan yang diharapkan dari siswa dalam tahapan ini adalah kecakapan
menelaah data dan sekaligus membahasnya untuk melihat hubungannya dengan masalah yang
dikaji. Di samping itu, diharapkan siswa dapat mengambil keputusan dan
kesimpulan.
- Menentukan Pilihan Penyelesaian
Menentukan pilihan penyelesaian
merupakan akhir dari proses SPBM. Kemampuan yang diharapkan dari tahapan ini
adalah kecakapan memilih alternative penyelesaian yang memungkinkan dapat
dilakukan serta dapat memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi sehubungan
dengan alternative yang dipilihnya, termasuk memperhitungkan akibat yang akan
terjadi pada setiap pilihan.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Pembelajaran
Berbasis Masalah yang berasal dari bahasa Inggris Problem-based Learning
adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dimulai dengan menyelesaikan suatu
masalah, tetapi untuk menyelesaikan masalah itu siswa memerlukan pengetahuan
baru untuk dapat menyelesaikannya.
Konsep Dasar dan Karakteristik SPBM SPBM dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas
pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi
secara ilmiah. Terdapat 3 ciri utama dari SPBM. Pertama. SPBM merupakan
rangkaian aktivitas pembelajaran, aktivitas pembelajaran diarahkan untuk
menyelesaikan masalah. Kedua,
aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. Ketiga, pemecahan
masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berfikir secara ilmiah.
Tahapan SPBM adalah Merumuskan
masalah, Menganalisis masalah, Merumuskan
hipotesis, Mengumpulkan data, Pengujian hipotesis, merumuskan rekomendasi
pemecahan masalah.
3.2. Saran
Dengan adanya pembahasan-pembahasan tersebut, semoga dapat
menambah pengetahuan tentang strategi pemelajaran (khususnya tentang strategi
pemelajaran berbasis masalah).
Dan apabila
dalam pembahasan tersebut masih ada kekurangan, diharapkan adanya kritik dan
saran yang sifatnya membangun, guna memperbaiki penulisan makalah yang
selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
v Sanjaya Wina,
M.Pd., H. Dr. Prof. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar
Proses Pendidikan. Bandung: Prenada Media Group
Tidak ada komentar:
Posting Komentar